Sikap tidak ada hubungan dengan prestasi seseorang. Seseorang bisa saja sangat berhasil dalam hidupnya, meraih prestasi akademik yang sangat luar biasa, meraih pangkat yang tinggi, meraih penghargaan kerana keberhasilan dalam suatu bidang tertentu, namun sikapnya kepada orang lain buruk. Sebaliknya ada orang-orang sederhana yang tidak memilki apa-apa justeru memiliki sikap yang baik, agung dan sangat dihormati dan dihargai orang lain.
Bagi
orang yang percaya kepada Kristus, sikap kita kepada orang lain tergantung pada
sikap kita kepada Tuhan. Hubungan kita dengan orang lain tergantung kepada
hubungan kita dengan Tuhan. Sikap orang percaya adalah sikap yang dilandasi
kasih, kasih kepada Tuhan dan kasih kepada sesama manusia. Namun kasih kepada
Tuhan mendahului kasih kita kepada sesama manusia. Mengapa?
Kasih
kita kepada Allah membuat kita memuji Allah. Kita memuji Allah karena kita
telah merasakan kasihNya kepada kita, kita yang tadinya tidak layak untuk
dikasihi, sekarang beroleh pengampunan dan kasih yang besar, menjadi anak-anak
Allah, diberkati dengan kelimpahan, diberi kunci untuk mengakses seluruh kuasa
dan inventory yang ada dalam perbendaharaan Allah. Bayangkan anda seorang
pengemis compang-camping, tiba-tiba mendapat belas kasih seorang raja yang
sangat agung, bahkan diangkat menjadi anaknya, ahli warisnya dan menerima kuasa
untuk mengakses apa saja yang dimiliki oleh raja tersebut.
Ketika
seseorang menerima kasih Allah, maka sikapnya juga berubah. Yusuf dijual oleh
saudara-saudaranya dan harus mengalami penderitaan selama 13 tahun sebelum ia
menerima jawatan sebagai perdana menteri Mesir. Selama waktu 13 tahun
penderitaan, itu merupakan mimpi buruk bagi Yusuf. Namun belas kasih Tuhan
menaungi Yusuf sampai pada akhirnya ia dipromosikan menjadi perdana menteri.
Sikap dia kepada saudara-saudaranya bukannya membalas dendam, tetapi justeru
penuh kasih dan keagungan. Dia malah berkata kepada saudara-saudaranya: Kej
45:5 “... janganlah bersusah hati dan janganlah menyesali diri, karena kamu
menjual aku ke sini, sebab untuk memelihara kehidupanlah Allah menyuruh aku
mendahului kamu.” Itulah keagungan dalam sikap seseorang yang telah menerima
kasih Tuhan. Ia melihat segala sesuatu dari perspektif rencana Tuhan kepada
dirinya bahkan kepada orang lain untuk menyelamatkan hidup banyak orang. Sikap
yang keluar karena mengasihi Tuhan.
Yusuf dihargai
bukan karena jawatannya yang tinggi, tetapi kerendahan hati dan belas kasihan
yang begitu besar kepada sesama saudaranya maupun orang-orang Mesir. Saat
kelaparan melanda seluruh Mesir, rakyat Mesir datang kepada Firaun, dan Firaun
menyuruh mereka kepada Yusuf. Yusuf tidak menghadapi mereka dengan kesombongan
seorang penguasa yang memiliki kuasa dan makanan bagi orang-orang yang
kelaparan. Tetapi Dia membuka lumbungnya sehingga semua orang dapat membeli dengan
bebas dengan harga yang terjangkau, bahkan bukan hanya orang-orang Mesir,
tetapi orang-orang dari seluruh dunia bebas datang membeli gandum di Mesir. Ini
adalah sikap yang penuh belas kasihan kepada sesama manusia tanpa memandang
suku bangsa. Tidak ada kesombongan, tidak ada pertunjukkan kekuasaan oleh
Yusuf.
Ketika
Tuhan ada dalam hati seseorang, maka orang itu diubahNya untuk menjadi saluran
berkat bagi orang lain. Sikap kita sebagai orang kristian harus terpancar dari
kasih kita kepada Allah, dan diberkati untuk menyalurkan kasihNya kepada sesama
kita. Melalui kasih kepada Allah itu, terpancar keagungan kita yang menunjukkan
keagungan Tuhan. Itulah nyanyian baru yang Tuhan taruh dalam mulut kita untuk
memuji namaNya (Mazmur 40:4). Tuhan memberkati anda!

0 comments:
Post a Comment